Sastra Jendra hayuningrat
Pangruwating Diyu
Ramayana dan Mahabarata adalah dua epos
yang sangat melegenda diseluruh dunia. Disamping masa yang lebih dulu daripada Mahabarata, Ramayana juga terdapat kisah
menarik yaitu asmara antara Rama dan sita yang penuh romantis. Bersama adiknya
Laksamana, Rama mengarungi jagad untuk mencari Sita yang diculik oleh Rahwana
si raja raksasa dari negeri Alengka. Hingga mereka bertemu dengan Hanuman dan
pamannya Sugriwa bersama pasukan kera dari kerajaan goa Kiskenda untuk
mengalahkan pasukan Rahwana.
Namun dibalik kisah tersebut ada pesan
yang penuh makna yaitu dikisahkan ketika seorang Resi yang bernama Wisrawa raja
dari Lokapala yang merupakan ayah dari Rahwana, Sarpakenaka, Kumbakarna dan
Gunawan Wibisana. Pada saat itu Resi Wisrawa bermaksud mencarikan jodoh untuk
anaknya yang bernama Danaraja yang merupakan hasil perkawinan dari Lokawati
putri Raja Lokawana, Raja kerajaan Lokapala sebelum Resi Wisrawa. Suatu ketika
ada seorang raja yang mengadakan sebuah
sayembara dari Negeri alengka, yaitu Prabu Sumali. Barang siapa yang dapat
mengalahkan Ditya kala Jambumangli, satria angkuh dan sombong yang mana
merupakan saudara muda dari Prabu Sumali dan harus menjabarkan ilmu Sastra
Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu, ia boleh mempersunting putrinya Dewi
Sukesi. Persyaratan pertama sudah dapat diselesaikan yaitu mengalahkan
Jabumangli, Resi Wisrawa membanting Jabumangli diatas tanah, hingga tangan,
kaki dan kepalanya terbelah menjadi dua. Selanjutnya sang Resi melakukan
persyaratan yang kedua yaitu menjabarkan ilmu Sastra Jendra Hayuningrat
Pangruwating Diyu. Karena ilmu tersebut merupakan ilmu monopoli para Dewata,
maka para dewata menjadi murka. Mereka berusaha untuk menghalang-halangi
penjabaran ilmu tersebut. Ketika Resi Wisrawa hampir selesai memberikan wejang
ilmu tersebut kepada Dewi Sukesi, datanglah suatu cobaan atau ujian hidup.
Batara Guru yang tidak terima ilmu tersebut ajarkan berusaha mengganggu bersama
istrinya Dewi Uma. Batara Guru merasuk dalam diri Resi Wisrawa dan Dewi Uma
merasuk ketubuh dewi Sukesi. Akhirnya mereka berdua terserang gejolak Asmara,
sehingga mereka melakukan hubungan badan yang nantinya akan melahirkan ketiga
anak raksasa yaitu Rahwana, Sarpakenaka dan Kumbakarna. Gagallah usaha
penjabaran ilmu satra Jendra tersebut.
Ilmu Sastra Jendra hayuningrat
Pangruwating Diyu atau Sastra Ceta merupakan ilmu yang mengandung kebenaran,
keluhuran, keagungan akan kesempurnaan penilaian terhadap hal-hal yang belum
nyata bagi manusia biasa. Jadi ilmu tersebut berisi tentang rahasia seluruh
alam semesta dan perkembangannya. Yang merupakan cara atau jalan untuk mencapai
kesempurnaan hidup. Untuk mencapai ilmu tersebut hal-hal yang perlu dilakukan
manusia adalah sukma dan roh yang manunggal antara lain : Mutih (makan nasi
tanpa lauk yang berupa apapun), Sirik (menjauhkan diri dari segala
keduniawian), Ngebleng (menghindari makanan dan minuman yang tak bergaram) dan
Patigeni (tidak minum dan makan sama sekali), selanjutnya melakukan meditasi dan melalui beberapa
tahapan ( tapaning jasad, tapaning budi, tapaning hawa nafsu, tapaning sukma,
tapaning cahya dan tapaning gesang). Sehingga manusia dapat memahami jatining
diri dan mencapai kesempurnaan hidup.
Apa yang sudah tersirat dalam kisah
diatas merupakan sebuah pesan moral bahwa setiap manusia yang hidup didunia ini
mengalami banyak cobaan yang meliputinya. Karena dunia itu merupakan ladang
perjuangan. Barangsiapa yang sabar dalam menghadapi cobaan, niscaya akan
mencapai kesempurnaan hidup. Salah satunya adalah terus melakukan perbuatan
yang baik. Seperti yang dikatakan oleh Yudhistira ketika bercakap-cakap dengan
Batara yama dalam kisah mahabarata “ kebahagiaan adalah buah dari perbuatan
kebajikan”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar