Jumat, 11 September 2015

Sastra Jendra hayuningrat Pangruwating Diyu



 Sastra Jendra hayuningrat Pangruwating Diyu
Ramayana dan Mahabarata adalah dua epos yang sangat melegenda diseluruh dunia. Disamping masa yang lebih dulu daripada  Mahabarata, Ramayana juga terdapat kisah menarik yaitu asmara antara Rama dan sita yang penuh romantis. Bersama adiknya Laksamana, Rama mengarungi jagad untuk mencari Sita yang diculik oleh Rahwana si raja raksasa dari negeri Alengka. Hingga mereka bertemu dengan Hanuman dan pamannya Sugriwa bersama pasukan kera dari kerajaan goa Kiskenda untuk mengalahkan pasukan Rahwana.
Namun dibalik kisah tersebut ada pesan yang penuh makna yaitu dikisahkan ketika seorang Resi yang bernama Wisrawa raja dari Lokapala yang merupakan ayah dari Rahwana, Sarpakenaka, Kumbakarna dan Gunawan Wibisana. Pada saat itu Resi Wisrawa bermaksud mencarikan jodoh untuk anaknya yang bernama Danaraja yang merupakan hasil perkawinan dari Lokawati putri Raja Lokawana, Raja kerajaan Lokapala sebelum Resi Wisrawa. Suatu ketika ada seorang  raja yang mengadakan sebuah sayembara dari Negeri alengka, yaitu Prabu Sumali. Barang siapa yang dapat mengalahkan Ditya kala Jambumangli, satria angkuh dan sombong yang mana merupakan saudara muda dari Prabu Sumali dan harus menjabarkan ilmu Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu, ia boleh mempersunting putrinya Dewi Sukesi. Persyaratan pertama sudah dapat diselesaikan yaitu mengalahkan Jabumangli, Resi Wisrawa membanting Jabumangli diatas tanah, hingga tangan, kaki dan kepalanya terbelah menjadi dua. Selanjutnya sang Resi melakukan persyaratan yang kedua yaitu menjabarkan ilmu Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu. Karena ilmu tersebut merupakan ilmu monopoli para Dewata, maka para dewata menjadi murka. Mereka berusaha untuk menghalang-halangi penjabaran ilmu tersebut. Ketika Resi Wisrawa hampir selesai memberikan wejang ilmu tersebut kepada Dewi Sukesi, datanglah suatu cobaan atau ujian hidup. Batara Guru yang tidak terima ilmu tersebut ajarkan berusaha mengganggu bersama istrinya Dewi Uma. Batara Guru merasuk dalam diri Resi Wisrawa dan Dewi Uma merasuk ketubuh dewi Sukesi. Akhirnya mereka berdua terserang gejolak Asmara, sehingga mereka melakukan hubungan badan yang nantinya akan melahirkan ketiga anak raksasa yaitu Rahwana, Sarpakenaka dan Kumbakarna. Gagallah usaha penjabaran ilmu satra Jendra tersebut.
Ilmu Sastra Jendra hayuningrat Pangruwating Diyu atau Sastra Ceta merupakan ilmu yang mengandung kebenaran, keluhuran, keagungan akan kesempurnaan penilaian terhadap hal-hal yang belum nyata bagi manusia biasa. Jadi ilmu tersebut berisi tentang rahasia seluruh alam semesta dan perkembangannya. Yang merupakan cara atau jalan untuk mencapai kesempurnaan hidup. Untuk mencapai ilmu tersebut hal-hal yang perlu dilakukan manusia adalah sukma dan roh yang manunggal antara lain : Mutih (makan nasi tanpa lauk yang berupa apapun), Sirik (menjauhkan diri dari segala keduniawian), Ngebleng (menghindari makanan dan minuman yang tak bergaram) dan Patigeni (tidak minum dan makan sama sekali), selanjutnya  melakukan meditasi dan melalui beberapa tahapan ( tapaning jasad, tapaning budi, tapaning hawa nafsu, tapaning sukma, tapaning cahya dan tapaning gesang). Sehingga manusia dapat memahami jatining diri dan mencapai kesempurnaan hidup.
Apa yang sudah tersirat dalam kisah diatas merupakan sebuah pesan moral bahwa setiap manusia yang hidup didunia ini mengalami banyak cobaan yang meliputinya. Karena dunia itu merupakan ladang perjuangan. Barangsiapa yang sabar dalam menghadapi cobaan, niscaya akan mencapai kesempurnaan hidup. Salah satunya adalah terus melakukan perbuatan yang baik. Seperti yang dikatakan oleh Yudhistira ketika bercakap-cakap dengan Batara yama dalam kisah mahabarata “ kebahagiaan adalah buah dari perbuatan kebajikan”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar