Jumat, 11 September 2015

Membaca Sambil Ngopi



Membaca Sambil Ngopi
Budaya ngopi memang sudah melekat erat diberbagai kalangan. Terutama kaum muda yang mana sebagian besar memiliki waktu yang cukup banyak untuk bersantai. Karena mereka belum mempunyai beban dan tanggung jawab rumah tangga. Ngopi merupakan  sarana entertain untuk mengisi malam minggu. Selain itu, ngopi juga menjadi bentuk ngumpul bareng atau istilahnya ngobar (ngopi bareng) sambil bercengkrama memberbincangkan suatu hal yang penting atau sekedar ngosip. Bahkan ngopi ini juga cocok untuk kalangan pejabat atau pengusaha yang dikemas dalam bentuk rapat.
Secangkir kopi memang sangat cocok digunakan dalam bentuk kegiatan apapun. Baik itu ketika sendiri atau berkumpul dengan orang banyak. Bahkan saat ini kopi sudah mulai merambah kedunia bisnis. Hal ini terbukti sudah menjamurnya cafe mulai yang bertaraf internasional sampai warung kopi pinggir jalan.
Namun ada juga sebagian orang yang menilai bahwa ngopi ini tidak cocok bagi para pemuda statusnya masih pelajar atau mahasiswa. Lebih baik digunakan belajar atau mengisi kegiatan yang lain yang sifatnya edukatif.
Belajar adalah hal yang wajib dan mutlak diperlukan bagi pelajar atau mahasiswa.  Tetapi menikmati hidup adalah sesuatu hal yang wajar dan sah adanya. Ngopi sambil membaca merupakan sebuah alternatif untuk mengatasinya. Aroma kopi yang khas sangat tepat untuk mencairkan suasana ketegangan ketika belajar. Sehingga selain menikmati kopi juga mendapat  banyak pengetahuan dari membaca.
Watuagung, 11 September 2015
Muhammad Rifa’i: “Ini cara belajar gue, loe bagaimana?”

Waktu yang Berkah



Waktu
Waktu seperti burung  tanpa hinggapan
Melewati hari-hari rubuh tanpa ratapan
Sayap-sayap mujizat terkebar dengan cekatan
Waktu seperti butir-butir air
Dengan nyanyi dan tangis angin silir
Berpejam mata dan pelesir tanpa akhir.
Dan waktu juga seperti pawang tua
Menunjuk  arah cinta dan arah keranda
(W.S Rendra, 1961. Empat Kumpulan Sajak)

Semua orang yang ada didunia ini tak ada yang tak kenal waktu. Waktu dalam konsep ilmu fisika dihitung melalui jarak dibagi kecepatan. Sedangkan pada hakikatnya secara filosofis adanya waktu depengaruhi oleh gerak. Mengapa? Munculnya siang dan malam dikarenakan adanya rotasi bumi melalui porosnya. Adanya tahun disebabkan revolusi bumi mengelilingi matahari selama 365 hari atau 366 hari dalam tahun kabisat. Hal inilah hubungan antara gerak dan waktu. Secara logika, jika seandainya didunia ini tidak ada gerak secara otomatis waktu tidak akan berjalan.
Hidup manusia selalu terikat dengan waktu (umur dan ajal). Sampai terciptanya dunia hingga saat ini waktu tak pernah berhenti. Dia terus bergerak dan terpacu sesuai hukum alam.  Seiring terikatnya waktu dengan manusia, banyak peran bagi kehidupan manusia. Diantaranya, yaitu:
Pertama waktu sebagai kawan, karena waktu menjadi teman setia mengiringi aktivitas dan perjalanan hidup manusia. Dikala suka atau duka.
Kedua waktu sebagai sesuatu yang penting, terkadang kita tidak sadar bahwasannya waktu menjadi hal yang paling berharga. Mengingat ketika ada peristiwa penting dalam kehidupan kita (seperti ulang tahun, hari besar, hari pernikahan dan lain sebagainya).
Ketiga waktu adalah musuh, ibarat sebuah lintasan balap waktu selalu menjadi lawan main kita dalam arena kehidupan. Suatu hari ketika datang kesekolah atau kekantor, takut terlambat, atau megejar deadline ketika sedang mengerjakan tugas.
Namun, dengan adanya peran-peran diatas tadi manusia tidak menyadarinya. Waktu menjadi sesuatu hal yang penting, juga bisa menjadi sesuatu yang menyebalkan. Seperti kata pepetah waktu bagaikan pedang, akan tetapi waktu adalah uang. Waktu bagaikan pedang, jika tidak waspada waktu akan menebas kita. Waktu adalah uang bagi orang selalu memanfaatkannya. Hal yang paling penting adalah bagaimana cara kita membuat waktu tersebut menjadi bermanfaat. Salah satunya menjadikannya waktu yang berkah. Yang mana waktu yang mendatangkan kebaikan bagi kehidupan kita. Caranya dengan membuat waktu tersebut menjadi lebih berharga. Apa gunanya punya banyak waktu, jika hanya untuk disia-siakan. Meskipun banyak kesibukan setidaknya kita memanfaatkan waktu dengan maksimal demi mendatangkan kesuksesan.

Guru killer atau guru cool



Guru killer atau guru cool
Agak sedikit aneh rasanya dengan judul tulisan ini. Tetapi ini terinspirasi dari sebuah pengalaman saya. ketika  masih duduk dibangku SLTP. Kata killer sendiri kurang tepat kalau digandengkan dengan guru. Kita tahu, seorang guru adalah seorang pendidik dan memberikan ilmu pengetahuan. Mengapa justru malah disebut killer (pembunuh). Kesan killer yang masih dalam ingatan saya adalah ketika diajar oleh guru fisika dan matematika. Saat guru tersebut memasuki kelas jantung terus berdebar. Bahkan mendengar namanya saja sudah menakutkan. Hari-hari sangat suram. Bangun pagi tak ada gairah untuk mencari ilmu. Pergi kesekolah ibarat memasuki istana penyihir. Mungkin yang saya alami ini tak jauh berbeda dengan anak-anak sekarang. Ketika diajar oleh seorang guru yang memiliki tampang galak dan menakukan. Barangkali guru tersebut ingin menunjukkan kewibawaannya terhadap para siswa. Bukannya giat belajar  malah menambah tekanan psikologis pada anak. Sehingga pelajaran tidak bisa diserap dengan maksimal. Akhirnya tujuan pembelajaran tidak akan tercapai.
lain halnya dengan guru cool. Kata cool disini bukan cool seperti anak muda jaman sekarang yang identik dengan stylish pakaian atau rambut . Pengertian cool secara bahasa adalah sejuk. Jadi guru cool adalah guru yang memberikan kesejukan terhadap muridnya. Bisa dibayangkan seandainya kita diajar oleh guru yang menyenangkan dan penuh dengan senyum. Secara tidak langsung murid akan mudah menerima apa yang disampaikan oleh guru. Dengan kata lain, seorang guru harus bersikap luwes terhadap anak didik. Meskipun  resikonya siswa bersikap manja terhadap guru. Akan tetapi disisi lain, siswa akan lebih terbuka untuk menyampaikan curahan atau masalah yang ada pada dirinya. Sehingga guru dapat melakukan tindakan evaluasi demi perbaikan pembelajaran siswa. Intinya adalah bagaimana seorang guru melakukan sosio emosinal dengan siswa melalui pendekatan interpersonal yang sehat. Dengan pengajaran yang cool akan menghasilkan siswa yang cool, sebaliknya pengajaran yang killer membuat siswa membuat siswa semakin brutal.

Sastra Jendra hayuningrat Pangruwating Diyu



 Sastra Jendra hayuningrat Pangruwating Diyu
Ramayana dan Mahabarata adalah dua epos yang sangat melegenda diseluruh dunia. Disamping masa yang lebih dulu daripada  Mahabarata, Ramayana juga terdapat kisah menarik yaitu asmara antara Rama dan sita yang penuh romantis. Bersama adiknya Laksamana, Rama mengarungi jagad untuk mencari Sita yang diculik oleh Rahwana si raja raksasa dari negeri Alengka. Hingga mereka bertemu dengan Hanuman dan pamannya Sugriwa bersama pasukan kera dari kerajaan goa Kiskenda untuk mengalahkan pasukan Rahwana.
Namun dibalik kisah tersebut ada pesan yang penuh makna yaitu dikisahkan ketika seorang Resi yang bernama Wisrawa raja dari Lokapala yang merupakan ayah dari Rahwana, Sarpakenaka, Kumbakarna dan Gunawan Wibisana. Pada saat itu Resi Wisrawa bermaksud mencarikan jodoh untuk anaknya yang bernama Danaraja yang merupakan hasil perkawinan dari Lokawati putri Raja Lokawana, Raja kerajaan Lokapala sebelum Resi Wisrawa. Suatu ketika ada seorang  raja yang mengadakan sebuah sayembara dari Negeri alengka, yaitu Prabu Sumali. Barang siapa yang dapat mengalahkan Ditya kala Jambumangli, satria angkuh dan sombong yang mana merupakan saudara muda dari Prabu Sumali dan harus menjabarkan ilmu Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu, ia boleh mempersunting putrinya Dewi Sukesi. Persyaratan pertama sudah dapat diselesaikan yaitu mengalahkan Jabumangli, Resi Wisrawa membanting Jabumangli diatas tanah, hingga tangan, kaki dan kepalanya terbelah menjadi dua. Selanjutnya sang Resi melakukan persyaratan yang kedua yaitu menjabarkan ilmu Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu. Karena ilmu tersebut merupakan ilmu monopoli para Dewata, maka para dewata menjadi murka. Mereka berusaha untuk menghalang-halangi penjabaran ilmu tersebut. Ketika Resi Wisrawa hampir selesai memberikan wejang ilmu tersebut kepada Dewi Sukesi, datanglah suatu cobaan atau ujian hidup. Batara Guru yang tidak terima ilmu tersebut ajarkan berusaha mengganggu bersama istrinya Dewi Uma. Batara Guru merasuk dalam diri Resi Wisrawa dan Dewi Uma merasuk ketubuh dewi Sukesi. Akhirnya mereka berdua terserang gejolak Asmara, sehingga mereka melakukan hubungan badan yang nantinya akan melahirkan ketiga anak raksasa yaitu Rahwana, Sarpakenaka dan Kumbakarna. Gagallah usaha penjabaran ilmu satra Jendra tersebut.
Ilmu Sastra Jendra hayuningrat Pangruwating Diyu atau Sastra Ceta merupakan ilmu yang mengandung kebenaran, keluhuran, keagungan akan kesempurnaan penilaian terhadap hal-hal yang belum nyata bagi manusia biasa. Jadi ilmu tersebut berisi tentang rahasia seluruh alam semesta dan perkembangannya. Yang merupakan cara atau jalan untuk mencapai kesempurnaan hidup. Untuk mencapai ilmu tersebut hal-hal yang perlu dilakukan manusia adalah sukma dan roh yang manunggal antara lain : Mutih (makan nasi tanpa lauk yang berupa apapun), Sirik (menjauhkan diri dari segala keduniawian), Ngebleng (menghindari makanan dan minuman yang tak bergaram) dan Patigeni (tidak minum dan makan sama sekali), selanjutnya  melakukan meditasi dan melalui beberapa tahapan ( tapaning jasad, tapaning budi, tapaning hawa nafsu, tapaning sukma, tapaning cahya dan tapaning gesang). Sehingga manusia dapat memahami jatining diri dan mencapai kesempurnaan hidup.
Apa yang sudah tersirat dalam kisah diatas merupakan sebuah pesan moral bahwa setiap manusia yang hidup didunia ini mengalami banyak cobaan yang meliputinya. Karena dunia itu merupakan ladang perjuangan. Barangsiapa yang sabar dalam menghadapi cobaan, niscaya akan mencapai kesempurnaan hidup. Salah satunya adalah terus melakukan perbuatan yang baik. Seperti yang dikatakan oleh Yudhistira ketika bercakap-cakap dengan Batara yama dalam kisah mahabarata “ kebahagiaan adalah buah dari perbuatan kebajikan”.

Records of the Dreamer



Records of the Dreamer
Ini berawal dari sebuah kisah seorang laki-laki yang ingin mendambakan datangnya sebuah cinta dalam kehidupannya. Namun, hal ini sangat bertolak belakang dengan apa yang telah diharapkannya. Tak satupun cinta menghampirinya. Sehingga ia memutuskan untuk membuang  jauh-jauh harapannya ini. Pada akhirnya hatinya diselimuti oleh kegelapan. Hari-harinya terasa kosong, mati rasa dan tak berdaya. Hal ini membuat timbulnya perasaan benci. Ia memandang segala dunia dengan mata penuh kebencian.
Akibatnya ia menjadi menjadi pobhia sosial. Ia ingin jauh dari segala keramaian. Pada akhirnya individualisme menjadi sebuah idologi yang dianutnya. Ia merasa muak dengan semua orang. Ia menjadi gila dan terus berkhayal sebagai bentuk pelarian diri dari impian dan cinta yang sulit dicapai. Merasa dunia ini tidak memberikan tempat baginya ia menulis sebuah catatan-catatan yang berisi pernyataan bahwa ia tak kan pernah percaya dengan cinta. Yang isinya sebagai berikut:
Apakah benar didunia ini ada cinta? Tidak, dunia ini bagiku adalah sebuah beban. Dikepala terasa sakit kalau memikirkan tentang kehidupan. Mungkin lebih tepatnya aku adalah seorang Iblis yang dipenuhi rasa benci. Cinta itu palsu, cinta itu tipuan, dan tipuan itu dosa. Berarti cinta itu membuat seseorang dosa. Bisakah hanya dengan melihat orang bahagia dengan cinta membuatku percaya? Hah, aku tak yakin itu. Didunia ini tidak ada cinta. Percaya dengan cinta itu adalah perbuatan nihil dan tak berguna.
LOVE KILLER
Fikiran yang selalu dipenuhi kegundahan
Jiwa yang selalu terombang-ambing dalam…
Roda kehidupan
Mati rasa hilang asa didalam benak
Bingung sulit diungkapkan kata-kata
Jati diri yang sudah hilang
Langkah selalu dituntun amarah
Logika selalu tak berdaya


Ya… akulah sang patung
Duduk terdiam dan merenung
Diri dan hasrat yang terkurung
Merasa hangat dan nyaman didalam sarung
Dibalik kehidupan yang selalu berkabung

Aku melewati tiga masa
Meniti jalan penuh derita
Menunbuhkan kebencian yang membara
Yang tak pernah percaya dengan cinta

Tiada kata cinta dihati
Bahkan sebesar biji sawi
Takkan kubiarkan bersemi
Hangus terbakar oleh benci

Apakah akhir dari kehidupan laki-laki tersebut? Seseorang tak kan pernah tahu. Karena hidup berjalan bukan atas dasar kemaunnya. Akan tetapi kehendak yang maha kuasa.
Kita sadar bahwa kehidupan ini bukan milik kita tapi mlikNYA. Kita tidak bisa protes dengan apa yang telah diberikan olehNYA kepada kita. Cinta, kebahagian, dan kebencian semua diatur olehnya. Yang hanya bisa dilakukan menerima semua keadaan yang telah Dia berikan. “kita sendiri tidak punya hak terhadap diri kita”.