Tradisi kejawen merupakan warisan leluhur yang menjadi ikon bagi budaya suku Jawa. Di era modern ini kejawen mulai tersingkir akibat arus perkembangan zaman, bisa dikatakan wong jowo ilang jawane. Sebab banyak anggapan orang budaya Jawa (Kejawen) sudah tidak layak pakai. Buku yang berjudul "Mistik Kejawen" karya Dr. Suwardi Endraswara, M.Hum membahas mistik kejawen melalui kajian filosifis penulis berusaha mengungkapkan bagaimana mistik kejawen ini dari sudut pandang orang jawa. Mistik Kejawen merupakan aliran kebatinan yang sudah melebur dengan berbagai macam agama yang ada ditanah Jawa. Bahkan yang lebih menarik dalam buku ini adalah penulis menjabarkan serat Sastra Jendra, serat Dewaruci dan tembang-tembang jawa lainnya.
Banyak orang jawa yang tidak mengetahui kalau setiap ritual dalam budaya jawa itu tersimpan simbol-simbol yang mana jika dijabarkan akan memiliki makna yang luas. Mistik Kejawen adalah simbol ideal dan falsafah hidup masyarakat Jawa. Baik dari segi ekonomi, politik dan sosial. Dari segi politik, masyarakat jawa mengenal istilah ajaran Asthabhrata atau Wahyu Makhuta Rama yaitu delapan sifat yang harus dimiliki oleh pemimpin. Dalam perekonomian masyarakat jawa selalu melakukan pesugihan atau meraih kekayaaan. Jika mereka pergi bekerja mereka selalu menghitung tanggal, dino, pekerjaan apa yang cocok. Ketika mereka telah mencapai kesuksesan tidak lupa mengcapkan rasa syukur yaitu diwujudkan melalui nasi tumpeng, do'a-do'a, dan mengunjungi makam leluhur. Sehingga kehidupan masyarakat jawa menjalani kehidupan dengan penuh keyakinan.
